DOA TANPA TANGAN

Copyright : Amazonaws.com

Copyright : Amazonaws.com

Khusus di pagi itu Anton, 57 tahun, mencelupkan tiga kubus gula ke dalam tehnya. Mulutnya pahit sejak hari kemarin. Terlebih setiap melihat sehelai surat itu. Hulu penderitaan yang kini tergeletak di meja makannya: surat pemecatan. “Toh, mereka memberi aku pesangon,” ia masih ingat kilah terakhir atas maki-maki istrinya. Namun, istrinya tetap berkeras pergi malam itu juga. Di hari yang sama ia ‘dirumahkan’. Lanjutkan membaca “DOA TANPA TANGAN”

VELANGKANNI di Kota Medan

 

Velangkanni -- photo by Ananta Bangun

Velangkanni — photo by Ananta Bangun

Pagi, seperti biasa. Surya menguak cahya dari ufuk Timur. Namun, aku mengistimewakan pagi ini untuk suatu tujuan. Sebuah rumah ibadah. Tak jauh dari kediaman pribadi dan yang terpenting ini: hening.

Sebuah keheningan bisa jadi teramat penting. Jika hiruk lalu-lintas di jantung kota bisa kalah bising dengan gemuruh kerja otak, ini menandakan sesuatu tidak beres. Coba mengutip nasihat orang bijak “menyeimbangkan”.  Hmmm. Sebenarnya, aku lebih ingin bungkam saja swara-swara tersebut. Atau lebih asyiknya dimisalkan cecuit-cecuit burung gereja taling-tarung berebut betina. Lanjutkan membaca “VELANGKANNI di Kota Medan”

TAK PERLU MENGUNYAH TULANG

 

Seorang biarawan tengah menikmati makan siang di satu warung makan. Selang beberapa waktu, ia dihampiri salah satu pengunjung. Mungkin karena pakaian yang dikenakannya, si pengunjung tersebut tertarik untuk bercengkerama sejenak. Walaupun sosok yang didekatinya masih asyik memakan sepiring daging ayam goreng.

Tanpa basa-basi, dia memperkenalkan diri dan mengatakan dirinya tidak meyakini adanya Tuhan. Terperangah sesaat, sang biarawan meladeni perbincangan tersebut. Bahkan ketika si pengunjung menanyakan apakah si biarawan pernah goyah imannya karena tidak memahami salah satu isi di Kitab Suci.

Lanjutkan membaca “TAK PERLU MENGUNYAH TULANG”

Surat cinta cama-cami untuk panitia yang paling romantis tentang komputer (PPS Universitas sari mutiara Indonesia 2015)

Untuk raka Lius Luaha (Panitia OSpek USMI_2015)
Prodi Sistem informasi

Selamat pagi raka lius…
Raka lius, tau gx persamaan raka dengan monitor?
“klo monitor menampilkan suatu hasil dari input, klo raka menampilkan keindahan yang tak bisa id input”.
Saat ku buka windows kamarku di pagi hari, aku melihat screensaver wajah raka Lius di awan. Wajah raka tampan, bagaikan di edit di photoshop atau aplikasi grafis lainnya. Raka itu selalu online di hatiku yang lain offline. Aku ingin upload hatiku untuk raka, dan di download hati raka untukku. Aku berjanji takkan mempartisi disk ku untuk yang lain. Aku ingin diriku ini untuk raka bookmark dan raka jadikan my favorites. Di prodi umum ini, raka lius luaha lah favoritesku. Raka lius luaha, sok-sok yang baik, ramah, manis, tampan, dan membuat hatiku serseran. Semanis-manisnya gula dan madu, manis-manisan raka lius dong. Lanjutkan membaca “Surat cinta cama-cami untuk panitia yang paling romantis tentang komputer (PPS Universitas sari mutiara Indonesia 2015)”